

Ini tentang bagaimana saya menjalani hidup, memaknainya, dan menjadikannya sebuah proses menjadi lebih baik


Ini tentang bagaimana saya dan dia menjalani hubungan kami sekarang. Dia begitu baik walau kami pernah merasakan sama-sama saling menyakiti. Tapi ya sudah lah, yang lalu biar hanya kami simpan dan cukup menjadi kenangan. Ketika kami kembali bertemu, tentunya dengan kedewasaan sikap yang lebih dari pada sebelumnya kami merasa bisa saling lebih mengerti. Dia yang dulu tertutup dan selalu menyembunyikan hal apapun dari saya serta selalu memaksakan dirinya untuk ikut serta kegiatan yang saya lakukan walau terpaksa itu sudah tidak lagi dia lakukan. Sayapun lebih bisa mengerti keadaannya, mencoba memahami apa yang sedang ada dalam dirinya, termaksud memahami bahwa saat bersama saya dulu dia memang tidak bisa SERIUS dengan wanita manapun, sekalipun saya yang dia anggap bisa menjadi segalanya. Saat ini ketika saya menerima segala ceritanya, saya merasa dia butuh seseorang yang bisa membantu dia mencari apa yang sebenarnya dia inginkan. Mencari seperti apa wanita yang dia inginkan, dari ceritanya terkadang saya bisa memahami hatinya, mengerti keadaanya yang mungkin tidak lebih baik dari keadaan saya yang sedang melupakan seseorang yang juga pernah dan masih mengisi hati saya. Dia terlihat kuat, tegas, dan sebelumnya saya berfikir dia tidak punya arti kata SAKIT HATI. Tapi ternyata dia pernah mengalami itu, dan dia bisa kembali menata hidupnya dari rasa itu walau sampai detik ini masih dalam proses. Kami mempunyai nasib yang serupa, sama-sama harus dengan terpaksa melupakan orang yang kami sayang karena lingkungan kami tidak menghendaki hubungan kami dengan pasangan kami. Saya memilih diam, menangis, dan tetap bertahan dengan perasaan yang saya miliki terhadap seseorang yang karena lingkungan kami tidak dapat melanjutkan semuanya. Tidak jauh berbeda dengan dia, tapi mungkin tidak dengan tangis karena saya sendiri gak bisa membayangkan dia yang sedang menangis, karena dia bukan sosok pria cengeng di mata saya. Saat ini saya merasa dia sudah lelah mempertahankan rasa sayang dan tetap mempertahankan perhatiannya terhadap wanita yang begitu dia sayangi. Dari keseluruhan ceritanya, dia nampak menyerah dan sudah pasrah jika memang wanita itu tidak dapat ia pertahankan. Rasanya turut bersedih untuk segala perasaan yang sedang berkecambuk di hatinya, walau sebenarnya saat ini saya juga sudah merasakan ke-sia-siaan jika terus memikirkan dan terus menutup diri saya untuk yang lain karena seseorang yang saya sayangi sama seperti dia menyayangi wanita itu. Saya bahkan sudah mencoba untuk berbicara dengan wanita itu, mencoba melihat keadaan hubungan mereka dari dua sisi yang berbeda, dari sisi dia, dan dari sisi wanita itu. Ada sebuah kesimpulan yang saya tanggapi dari pembicaraan kami sebuah harapan juga dari wanita itu untuk tetap bersamanya, namun harapan itu juga bersaing dengan sebuah keyakinan yang sama-sama mereka pegang yang akhirnya tidak dapat menemukan mereka pada satu titik keseragaman. Jelas masalah mereka sudah sangat berbeda dengan saya. Dan sebuah keyakinan tidak dapat lagi saya campuri. Posisi saya hanya sebagai pendengar yang baik, dan sedikit memberikan pendapat saya yang tentunya tidak mungkin juga di jadikan refrensi untuk mereka. Pendapat saya tidak cukup objektif, karena bukan saya yang menjalani hubungan dan merasakan perasaan yang sedang mereka rasakan. Kemudian, saat ini saya jadi merasa dia dan saya sudah ada pada tahap saling mengerti satu sama lain, baik tentang sikap kami dan tentang perasaan kami sebenarnya. Hal ini membuat saya sedikit khawatir, khawatir jika ternyata saya memang benar-benar mengerti dia, menerima segalanya tentang dia, dan akhirnya malah kembali sama dia. Dengan situasi saya dan dia sudah memiliki kartu AS masing-masing, takut itu malah menjadi boomerang buat hubungan kami ke depan. Bagaimanapun WANITA ADALAH TEMPATNYA SALAH, seberapa besarpun kesalahan dia tetap saja akan bisa hilang dan tidak berlaku buat saya. Saat ini saya nyaman menjalani hubungan yang bisa saling mengerti dan mengisi diantara kami. Walau kami sendiri tahu bahwa kami bukanlah apa yang kami harapkan. Saya mempunyai sikap yang khusus saya berlakukan untuk dia " Terserah dia mau apa, tapi jika apa yg dia lakukan merugikan buat saya dalam bentuk apapun maka saat itu juga saya akan pergi dari hidupnya " so... selama dia baik, sayapun akan baik, tapi jika dia jahat, saya hanya cukup meninggalkan dia...agar dia tahu bagaimana bedanya saat saya yg bisa mengerti dia pergi dari hidupnya.Maafkan aku yang sudah membuatmu ikut dalam masalah ini nak....
Ini sudah keputusan yang terbaik namun tetap saja menyakitkan untukku. Dan aku tak mengerti mengapa mesti seperti ini. Inilah jalan hidupku, yang sudah banyak melibatkan orang-oraang yang aku sayangi.
Maafkan aku mah, pah...aku tidak bahagia dengan ini, tapi aku rasa ini dapat membuat kalian bahagia walau dalam kepura-puraan.
Aku tidak ingin mengenakan kebaya ini dengan berat hati, aku tidak ingin memandang mahar itu dengan sebelah mata, aku tidak ingin mendengar ijab qobul itu dengan hati miris, aku hanya ingin semuanya menjadi lebih baik, untuk aku dan keluarga ku, dan yang jelas untuk nyawa di dalam rahimku ini.
Tuhan maafkan aku untuk cara yang mungkin salah, namun aku tidak ingin melangkah ke jalan yang salah lagi Tuhan.
Aku masih terlihat segar walau 3 hari ini mata ku tak bisa terpejam, bayi dalam kandungankupun aku rasa merasakan kegundahanku. Karena semenjak tadi pagi ia terus menendangi perutku, seolah protes akan keadaanku saat ini.
Tenang sayang kamu akan lahir dengan kehadiran seseorang yang akan kau panggil ayah, tinggal beberapa menit lagi aku akan memberimu kesempurnaan hidupmu nak...
Adakah pilihan lain selain pernikahan yang tinggal beberapa menit ini? aku tak pernah mengerti apa yang Engkau rencanakan untuk hidupku, namun aku yakin semua pasti akan berakhir indah. Mungkin pernikahan ini juga akan se-indah yang Kevin bayangkan, dan Kevin gambarkan padaku.Walau Kevin bukan Aryo yang selalu membuat ku mampu tertawa dalam tangis, yang mampu membuat ku hebat, yang mampu menciptakan dunia indah untukku, namun Kevin yang menyelamatkanku dari keterpurukan yang Aryo ciptakan. Namun aku sungguh tidak bisa menggantikan posisi Aryo dan menukarnya dengan kehadiran Kevin, Aryo tetap ada di hati terdalam ku. Dia akan selalu mendampingi ku mejalani hiduku walau Kevin telah menjadi satu-satunya pria yang akan menempatkan namanya di belakang namaku. Bagiku, hingga akhir nanti Aryo tetaplah jiwa dalam ragaku, desah dalam nafasku, da detak dalam jantungku. Darahnya telah mengalir dalam tubuhku, dan akan menciptakan makhluk yang saat ini menanti untuk di lahirkan ke bumi ini. dan aku yakin, dengan kehadirannya yang akan mengisi hidupku bersama Kevin maka semua kenangan ku dengan Aryo akan tetap terjaga tanpa harus menyakiti perasaan Kevin. Tidak ada yang ingin aku sakiti namun aku hanya ingin menyayangi orang yang aku sayang, memberikan yang terbaik walau kenyataannya kini aku yang terpuruk. Diluar sana entah berapa banyak orang yang akan mengucapkan selamat padaku, namun apa aku masih bisa tersenyum saat Aryo yang datang dan mengucapkan itu kepadaku. Aku tak dapat membayangkan bagaimana ekspresi kami saat harus kembali berpapasan, setelah 7 bulan yang lalu Aryo memilih meninggalkan ku dan kembali kepada istrinya. Dan kini kami harus bertemu dngan kondisi yang sangat di luar dugaan dan tak pernah sama sekali aku stau aryo rencanakan. Aryo bahkan menjadi deretan saksi nikahku, pria yang selama ini aku harapkan menjadi mempelai pria ku malah akan menjadi saksi dalam pernikahanku. Dan sayangnya Aryo tidak pernah tahu bahwa calon istri adik iparnya adalah mantan kekasih gelapnya. Hari ini aku bukan ingin membuat Aryo tercengang dengan apa yang dia lihat, namun aku hanya tidak ingin memperburuk keadaan dengan kembali bertemu dan menjelaskan bahwa kami ini akan menjadi satu keluarga bahwa bayi yang ku kandung ini adalah anaknya, bahwa adik iparnya yang begitu baik bersedia mengantikan posisinya untuk menjadi ayah dari anaknya. Aku hanya ingin Aryo bahagia, walau aku harus menderita untuk itu. Bahkan sejak ia memilih meninggalkan aku, aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiannya. Kini kebahagianku ternyata tergantung pada adik iparnya, aku memang sudah melakukan kesalah terbesar dengan mencintai suami orang, bahkan mengandung benih cinta terlarang kami. Tapi aku akan memperbaiki semua ini, menata hidupku kembali walau ternyata aku masih saja dipertemukan dengan Aryo dalam situasi dan kondisi yang sangat di luar rencanaku. Tidak ada sedikitpun niatku untuk sengaja mendekati Kevin yang tidak lain adalah adik Hanum istri Aryo, aku tidak mengenal siapa dan bagaimana Aryo. Tiba-tiba saja ia hadir dalam hidupku dan mampu membuatku yakin bahwa ia bisa menjadi ayah yang baik buat anakku, walau bukan dia ayahnya. Akupun menyadari hubungan kekerabatan mereka 3 hari yang lalu saat Hanum mengajakku untuk memilihkannya warna kebaya yang cocok ia jadikan hadiah untuk ibunya. Aku tak menyangka bahwa Hanum yang selama ini Kevin ceritakan adalah Hanum yang sama dengan cerita-cerita Aryo. Schok yang aku alami mampu membuatku, berbaring di ICU untuk beberapa saat bayiku berontak dengan reaksi keterkejutanku. Hanum yang tidak pernah mengetahui hubunganku dengan Aryo menjadi panik, namun ku tetap bisa meyakinkannya bahwa aku dan bayiku baik-baik saja. Kevin yang lebih mengkhawatirkanku, tanpa banyak pertimbangan dan tidak lagi mengindahkan adat yang sudah di terapkan di keluarga kami ( bahwa menjelang pernikahan pengantin tidak boleh bertemu ) Kevin menemaniku menjalani derita pendarahan yang sempat membuatku hampir mati, aku atau bayiku yang harus mati.... aku ingin bayiku tetap hidup, karena dengan itu nyawaku akan tetap hidup, cintaku dengan Aryo akan tetap mejadi kisah yang abadi. Betapa bijaknya Kevin saat mengatakan kepada tim medis bahwa anak dan calon istrinya harus di selamatkan. Hanum nampak terlihat merasa bersalah, beberapa kali aku melihatnya menangis sambil berbicara lewat hp dan aku mendengar dia mengucapkan kata “ayah” dan aku tahu seseorang yang Hanum hubungi adalah Aryo. Aku berusaha kuat untuk tetap bertahan, dan aku ingin bertahan untuk tetap mendapati kebahagiaanku dan menjadikan Aryo lelaki yang sempurna. Walau bukan dari Hanum, namun aryo telah menunjukan bahwa ia mampu menjadi ayah. Meski ia tidak akan pernah tahu bahwa bayi ini adalah Aryo kecilnya yang selalu ia idamkan. Hari ini ketika semua orang di luar sana berbahagia dengan penikahan yang akan aku jalani, aku disini malah berharap ada jalan keluar yang lebih baik dari pada pernikahan ini.
mungkinkah melarikan diri???
Mamah papah terlihat sangat bahagia, Kevin selalu mengembangkan senyumnya pancaran sinar kebaikannya yang mampu membuatku luluh dan mempercayakan hidupku nanti kepadanya, juga hidup bayiku.
Apa aku rela kembali mengecewakan mereka yang sebenarnya hanya ingin aku bahagia??
Saat ini aku hanya butuh oksigen untuk bisa bernafas, karena dadaku terasa sesak. Sebentar lagi aku akan menjadi bagian dalam keluarga Aryo bukan sebagai istrinya tetapi iparnya, bayiku akan menjadi keponakannya bukan anaknya. Dia akan aku panggil “mas” bukan “ sayang “. Akupun melihat tawa lepas dari Aryo yang tidak pernah aku lihat lagi setelah 7 bulan yang lalu, sata ia memutuskan untuk meninggalkanku karena Hanum mencurigainya. Aku tidak butuh banyak penjelasan Aryo karena aku tahu aku memang tidak pantas mendapatkan penjelasan apapun. Dan akupun tidak ingin mengubah keputusan Aryo untuk meningglkanku untuk hidupnya yang lebih bahagia hanya karena aku mengandung benihnya. Bagiku cukup keputusan Aryo yang ingin kembali bersama Hanum dan memulai hubungan mereka tanpa orang ketiga lagi seperti aku. Aryo telah memutuskan apa yang menurutnya baik dan mampu membuatnya bahagia, aku hanya cukup dan ingin dia bahagia. Dari kamar ini aku dapat melihat dua keluarga yang sangat bahagia, seseorang yang rela berkorban untukku, seorang pria yang sangat aku sayangi, dan seorang wanita yang pernah aku sakiti walau ia tidak menyadari itu. Aku nampak anggun denga kebaya putih ini, walau perut ini sudah tidak dapat tertutupi namun aku masih dapat merasakan kesucian perikahan yang akan aku jalani. Ini adalah waktunya, aku harus memulai hiudpku, Kevin menunggu duduk bersila di depan para penghulu, keluargaku dan keluarganya seperti membuntuk lingkaran kecil yang telah melingkari kevin yang berada di tengah-tengah bersama penghulu, ayahku, ayahnya, juga pria yang sangat aku sayangi Aryo. Aku melihat wajah aryo nampak pucat, ekspresi yang telah aku duga sebelumnya. Aku berusaha tidak menghiraukannya, aku berusaha untuk tetap berjalan anggun dan mengembangkan senyumku kepada semua orang. Namun langkahku terasa berat, tubuhku seperti kehilangan keseimbangan, mataku mulai tak dapat melihat siapa yang aku lihat, namun aku sempat melihat kevin bangkit dari duduknya dan berlari namun aku merasa gelap.....
Samar ku dengar semua orang ribut, namun aku tak tahu apa yang terjadi. Mendadak semua orang seperti kehilangan arah, ribut disana dan disini, aku samar melihat Hanum memeluk Aryo sambil menangis... apa yang terjadi??? Kevin dimana?? Mamah papah... semua orang tidak menghiraukanku, aku masih lemas untuk berdiri, aku rasa aku pingsan tadi...
Tapi kenapa dengan semua orang disini? Aryo berpaling ke arahku, diapun menangis!!hagh???? ada apa dengan semua ini mengapa Aryo menangis, aku ingin memeluknya tapi tidak untuk situasi saat ini. beberapa kali aku mencoba bertanya pada Aryo tentang apa yang telah terjadi di rumahku denga tatapanku, namun tatapan mataku hanya di balas Aryo dengan helaan napasnya. Aku rasa aku harus menemui Kevin untuk memintanya menjelaskan ada apa dengan ini semua. Beberapa petugas medis datang dan menanyakan keberadan Kevin, jantungku berdegup kencang. Sesuatu hal pasti terjadi pada Kevin, aku setengah berlari untuk memastikan semuanya beberapa tim medis itu menuju kamarku, aku semakin ingin berlari menaiki tangga-tangga yang cukup tinggi. Di dalam kamarku aku melihat Kevin menunduk lemas, dia nampaknya tak bermasalah. Tapi.... aku tidak yakin siapa gadis yang berbaring itu, apa benar itu aku, atau ini semua hanya mimpi...atau aku telah mati.....
Aku tersadar, dan mendapati semua yang terjadi ini bukanlah mimpi, aku benar-benar terbaring tapi kini di Ruangan yang tidak aku tahu dimana. Disampingku, tetap Kevin, tidak jauh darinya ayah dan ibuku terlelap di sofa panjang. Aku berusaha bangkit dan tidak ingin mengganggu semua orang di dalam ruangan ini. semua orang yang pasti telah menjagaku.. aku melepaskan beberapa selang yang menempel di tubuhku. Dan seketika aku bangkit, akupun menyadari ukuran perutku menyusut, aku bingung dan tiba-tiba menjerit histeris. Semua orang terbangun, dan aku meminta mereka menjelaskan apa yang terjadi padaku.
Aku pingsan dan mengalami pendarahan pada saat detik-detik pernikahanku, aku tak sadarkan diri. Dokter menyarankan agar kandunganku di keluarkan karena dapat membahayakan diriku. Akhirnya atas persetujuan semua keluargaku, aku mejalani operasi pengangkatan janin yang sudah 7 bulan bersemayam di rahimku. Setelah itu, aku koma untuk beberapa hari sebelum hari ini aku sadarkan diri. Bayiku selamat saat operasi itu di lakukan, namun sayang dia terlalu lemah untuk tetap bertahan. Tuhan memilihnya untuk kembali kepangkuannya. Dan aku kembali di sadarkan untuk menjalani kembali hidupku.
Terimakasih untuk semua yang engkau berikan Tuhan, juga untuk kesempatan kehidupan ini. Walau tanpa Aryo ataupun bayiku, namun Kevin akan sangat mencintaiku....Karena aku tahu ini adalah jalanmu...